Nyeri saraf dengan nyeri otot, sama gak obatnya?

painBiasanya saat merasa nyeri setiap orang akan berusaha mengatasinya dengan minum obat. Tetapi apakah obat nyeri yang diminum sudah sesuai dengan penyebabnya? Bila nyerinya tidak berkurang barulah berobat ke dokter. Tahukah anda bahwa nyeri tersebut berbeda-beda berdasarkan penyebabnya?

Setiap orang pasti pernah merasakan nyeri, entah karena luka akibat trauma misalnya trauma mekanik disebabkan karena pukulan atau benturan, tergores, teriris pisau, trauma fisika misalnya terkena api, tersundut rokok, trauma kimia misalnya terkena air keras atau  soda api. Semua luka akibat trauma tadi akan menyebabkan nyeri karena terjadinya kerusakan jaringan yaitu adanya robekan, goresan, irisan atau luka bakar pada kulit atau otot yang dapat menimbulkan nyeri. Nyeri seperti ini disebut dengan nyeri Nosiseptif. Selain itu ada juga nyeri yang tidak disebabkan karena kerusakan jaringan misalnya nyeri saraf.

Ada berapa jenis nyeri?

Secara golongan besar berdasarkan IASP (International Association fot the Study of Pain) asosiasi internasional yang mempelajari nyeri menyatakan bahwa nyeri dibagi menjadi beberapa golongan yaitu :

  1. Nyeri Nosiseptif
  2. Nyeri Neuropatik
  3. Nyeri Inflamasi

Nyeri nosiseptif disebabkan karena adanya stimulus yang ‘berbahaya’ atau ‘noxius‘ yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan nyeri. Mengapa bisa nyeri? akibat kerusakan jaringan maka jaringan yang rusak akan mengeluarkan senyawa kimia seperti senyawa peradangan (interleukin, prostaglandin dll) yang dapat merangsang saraf nyeri atau disebut dengan nosiseptor yang tersebar di seluruh permukaan tubuh termasuk kulit dan otot maupun organ dalam atau organ viseral. Sehingga perasangan nyeri pada nosiseptor akan diteruskan ke otak melalui sistem saraf spinotalamikus atas (ascendent) ke daerah korteks otak.

Sesampainya di otak maka nyeri akan dipersepsi sehingga kita bisa merasakan di mana lokasi nyeri, derajat nyeri apakah nyeri ringan atau sedang, penyebab nyeri dan lain sebagainya.  Sesampainya di otak maka nyeri akan diproses oleh otak apakah akan ditingkatkan atau dihambat. Misalnya kita sering mendengar pada saat kondisi yang mengancam jiwa (misalnya: kebakaran atau perang) seseorang yang sedang terluka  tidak merasakan nyeri pada saat dipaksa untuk berlari. Tetapi setelah keadaan sudah aman dan tenang barulah dia merasakan nyeri sekali. Hal tersebut disebabkan karena adanya modulasi nyeri oleh jalur sistem saraf spinotalamikus bawah.

Sekarang apa bedanya nyeri nosiseptif dengan nyeri saraf atau nyeri neuropatik?

Nyeri saraf atau nyeri neuropatik adalah nyeri yang disebabkan karena adanya kerusakan sel saraf atau selubung yang menyelimuti sel saraf yang disebut dengan myelin tanpa adanya kerusakan jaringan kulit atau otot. Nyeri neuropatik biasanya dirasakan seperti terbakar, tertusuk, tertembak dan sifat nyeri sering menjalar dari satu tempat ke tempat lain sesuai daerah persarafannya. Selain itu nyeri neuropatik juga sering ditandai dengan adanya allodinia yaitu suatu rangsangan yang tidak membuat nyeri namun menyebabkan nyeri. Misalnya sentuhan tangan pada orang yang terkena nyeri neuropatik akan terasa nyeri sekali.

Beberapa contoh nyeri saraf adalah misalnya nyeri yang disebabkan oleh penekanan saraf, misalnya nyeri yang paling sering dirasakan oleh pria yang memiliki kebiasaan menyimpan dompet pada saku celana belakang, kemudian duduk terlalu lama sehingga menyebabkan penekanan pada saraf ischiadicus di bagian daerah pantat sehingga menimbulkan nyeri yang menjalar sampai ke kaki. Akibat penekanan ini biasanya menyebabkan gangguan nyeri pada saat berjalan serta rasa kebas pada tungkai dan kaki. Selain itu nyeri akibat saraf trigeminal yaitu saraf otak ke-5 yang muncul pada bagian dalam pipi di depan telinga juga merupakan contoh nyeri neuropatik. Nyeri pada pergelangan tangan akibat terlalu lama mengetik yang sering disebut dengan istilah Carpal Tunnel Syndrome juga merupakan contoh nyeri neuropatik.

Bagaimana mengobatinya?

Untuk nyeri nosiseptif pengobatan yang diberikan yaitu dengan obat-obatan yang bekerja pada enzim siklooksigenase (COX-1 atau COX-2) misalnya: parasetamol, ibuprofen, ketorolac, asam mefenamat, diclofenac atau obat golongan COX-2 inhibitor seperti celecoxib, etoricoxib. Namun penggunaan obat tersebut harus hati-hati dan harus sesuai dengan petunjuk dokter karena dapat meningkatkan tekanan darah serta menurunkan aliran darah (perfusi) ginjal, sehingga harus hati-hati bila diberikan pada orang dengan hipertensi atau gagal ginjal kronik. Selain itu untuk obat golongan COX-2 inhibitor juga sering menimbulkan reaksi alergi.

Sedangkan untuk nyeri neuropatik pengobatan diberikan dengan obat-obatan yang bekerja menghambat impuls nyeri pada sistem saraf. Obat-obatan tersebut antara lain adalah dari golongan GABA analogue seperti : gabapentin, pregabalin atau obat golongan SNRI (Serotonin Norepinephrine Reuptake Inhibitor) seperti : venlafaxine atau duloxetine.

Jadi sekarang sudah jelas, jangan sembarang minum obat nyeri bila belum tahu mengenai penyebabnya, gunakan obat bebas terbatas seperti parasetamol bila anda merasakan nyeri untuk sementara dan konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter apabila nyeri dirasakan sangat mengganggu dan menyiksa.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s